Mengungkap Seni Gegel Jubleg Kecamatan Cisewu
Oleh: Gun Gun Nugraha,
S.Sn
Selayang
Pandang
Seni menyimpan
sekelumit permasalahan klasik yaitu dorongan dan biaya untuk melakukan
regenerasi ditengah himpitan zaman dan kuatnya penetrasi budaya luar. Disamping
itu banyak kesenian kita yang di akui oleh negara lain, sementara banyak pelaku
seni yang sudah banting setir ke pekerjaan yang lain karena kesenian yang biasa
mereka tekuni sudah tidak digemari lagi oleh sebagian besar masyarakat.
Alasannya seni tradisional tidak tersentuh modifikasi dan pembaruan padahal
zaman menuntut manusia untuk semakin cepat dan semakin luwes untuk terus
beradaptasi dengan keadaan dan perkembangan peradaban, agar manusia dapat
bertahan hidup dan kehidupan kita terus berjalan dengan semestinya. Seni dapat
hidup dan menghidupi.
Kita memiliki
tantangan agar nilai nilai tradisi ini dapat digemari kembali oleh orang muda,
caranya bagaimana? Caranya dengan melakukan penyesuaian dengan kondisi zaman.
Penyesuaian adalah jalan bertahan hidup yang baik, agar kesenian tradisional
ini tidak terhimpit oleh keadaan.
Program pemberdayaan
sarjana seni ini kami harapkan sebagai wadah komunikasi antara seniman
tradisional sebagai sumber kajian dalam perkuliahan dengan para sarjana seni
yang mengkajinya. Kerja kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi laboratorium
yang memadai untuk terciptanya strategi bertahan hidup.
Tinjauan Umum Kondisi Kesenian di
Kecamatan Cisewu
Secara administratif
kecamatan Cisewu termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Garut, namun secara
geografis lebih dekat ke Kabupaten Bandung, sehingga secara secara emosional
Kecamatan Cisewu lebih merasa sebagai bagian dari Kabupaten Bandung. Hal
demikian dikarenakaan akses jalan raya menuju Bandung lebih dekat dan lebih mulus dibandingkan menuju ke pusat
pemerintahan Kabupaten Garut.
Kecamatan Cisewu
merupakan salah satu basis pokok dalam perkembangan kesenian dan kebudayaan
pada jaman dahulu, sehingga terdapat puluhan grup kesenian berdiri.
Masyarakatnya pun sudah terbiasa dengan perhelatan kesenian. Situasi ini
didukung oleh sebagian mata pencaharian penduduknya sebagai petani sawah,
perkebunan dan merupakan penghasil gula merah dan madu yang berkualitas. Dari
mata pencahariian yang di dominasi oleh pengolahan alam maka tyidak heran
berbagai kesenian itu tumbuh sebagai sarana untuk melakukan syukuran terhadap
alam yang telah memberikan berkah yang luar biasa itu.
Namun kondisinya
sekarang jauh berbeda, walaupun sebagian besar penduduknya masih bertani dan
berniaga di kota dengan melakukan urbanisasi yang kompak untuk mencari
kelebihan peruntungan di kota besar provinsi yang aksesnya sudah sangat mudah.
Dampak dari situasi itu adalah berkurangnya peminat untuk meneruskan
keterampilan mengolah daya kreatif seni. Sampai 2009 nyaris semua grup kesenian
tadi tidak berkembang bahkan sudah tinggal kenangan dari mulut ke mulut bahwa
di Cisewu pernah berdiri dan berkembang berbagai jenis kesenian. Situasi ini
akan terus memprihatinkan jika pemerintah juga yang memiliki kewenangan untuk
menyelamatkan kesenian tidak ada kepedulian. Sementara dari penyelidikan
sebagian grup itu masih menginginkan untuk terus eksis daalam dunia seni namun
tidak ada figur yang memimpin dan mengayomi mereka.
Karenanya Kecamatan
Cisewu pada saat ini sangat butuh sentuhan dari para praktisi seni dan peran
aktif pemerintah untuk membangkitkan kembali semangat kreatif dan daya hidup
seni. Walaupun sampai saat ini baru berdiri kembali satu grup kesenian di
Kecamatan Cisewu yang masih melakukan perombakan dan pemeliharaan kembali
atefak kesenian yang dulu pernah dimiliki.
Di
samping itu, secara umum kondisi masyarakat Kecamatan Cisewu merupakan
masyarakat yang apresiatif terhadap kesenian dan mereka memiliki animo yang
tinggi terhadap pertunjukan kesenian, hal ini didukung karena kesejarahan yang
disampaikan melalui lisan dari orang tuanya tentang berbagai kesenian yang biasa
di tonton jaman dahulu kala sewaktu para orang tua ini masih muda.
Dari cerita yang
berkembang inilah banyak diantaranya yang sekolah ke STSI Bandung untuk
mengejar kerinduan terhadap hidupnya kesenian disekitar masyarakat. Dan
masyarakat yang masih tinggal di Kecamatan Cisewu sedang merindukan tampilnya
kembali kesenian untuk mewarnai kenduri dan perhelatan hari besar kenegaraan
sebagai rasa mulai bosannya masyarakat pada hiburan organ tunggal yang selama
10 tahun terakhir menjadi bagian tak terpisahkan dari kenduri dan perhelatan
hari besar kenegaraan.
Ilustrasi diatas
didukung oleh beberapa kegiatan gelar budaya yang dilakukan 2 tahun terakhir
dimana seluruh lapisan masyarakat antusias menyambutnya. Dan sebagian besar
diantaranya menyimpan kerinduan terhadap tumbuhnya kembali kesenian ini dan
hadir kembali ditengah masyarakat.
The Global Art : Sebagai wadah revitalisasi
seni tradisi
The Global Art
merupakan sebuah wadah revitalisai serta konservasi kesenian dan kebudayaan yang didirikan pada
tahun 2009, yang digagas oleh pemuda Cisewu yang memiliki keprihatinan terhadap
punahnya jenis kesenian yang dulu pernah berkibar di Jawa Barat.
Kehadiran The Global
Art 22 Maret 2009, menjadi
sejarah baru bagi dunia kesenian di desa Cisewu, Kecamatan Cisewu –Garut.
Merupakan waktu sakral, sekaligus
goncangan bagi daerah yang sedang terpuruk kondisi kesenian tradisinya.
Satu fenomena yang membuat wacana sosial
berhari-hari. Sebagai resfon dari menjelmannya konsep organisasi yang mengusung
“Revolusi Kebudayaan”.
Global
Art yang di rintis oleh Gun Gun Nugraha S.Sn, Darmawan, S.Sn, dan Deden Farid
ini. Beranggotakan sekitar 250 orang, meliputi pelajar dan umum. Dengan struktur pengurus sebagai
berikut.Pelindung: Muspika Kecamatan Cisewu. Penasihat : Asep
Tatang, Ayi Rochman, Drs. H Meinuzar, M.Mpd dan Ahmad Darodjah, S.pd. Ketua umum : Gun Gun
Nugraha, S.Sn. Koordinator Musik : Egis Sugestian dan Rian Mayor. Koordinator
Teater : Deden Abdul K dan Anggi Febriana. Koordinator Seni Rupa : Hendra
Sukmawan dan Andri Bandrek.
Kenapa
pada perekrutan remaja dan pemuda menjadi menjadi sasaran? Mereka
berpikir bahwa sebuah
perubahan harus berawal dari pemuda. Dengan dasar lain, pada waktu itu para
pemuda Cisewu, sedang demam menggandrungi band
atau permainan yang berbau tekhnologi modern bisa diberi istilah budaya
Barat. Tidak jarang tak sesuai dengan cita-cita luhung leluhur kami --meninggalkan seni-seni dan nilai-nilai
ketradisian sebagai peninggalan karuhun.
Puluhan
jenis kesenian tradisi, seperti : Gegel Jubleg, Lais, Wayang tutur, Rengkong, Reog, Babagongan,
Momonyetan, Kacapi Suling, Gondang, Bakicot, dan lai-lain. Sama sekali tidak
disentuh oleh mereka. Beralasan kampungan atau ngolot. Para pemuda pemudi sudah malu mengafresiasi budaya-budaya atau seni local. Digerus
mentalitasnya ke arah dominasi budaya pop. Selain seni-seni tradisi, permainan
anak-anak baheula juga atau di kenal
dengan istilah kaulinan barudak Lembur
seperti: Boyongan, Gobag, Ucing-Ucingan, Hahayaman, Sasalimpetan, Pangpring,
Gunggaya, Maen Kaleci, Maen Karet, dan lain sebagainya. Total ditinggalkan.
Tergantikan play station atau sinetron yang sering tidak bermutu dan kering
nilai pendidikan.
Kenyataan
itulah yang menjadi landasan Global Art didirikan, dengan penamaan
organisasinya sedikit asing, sebagai setrategi untuk menjaring para pemuda,
yang waktu itu tengah dilanda kebarat-baratan.
Kami memiliki cita-cita besar “Kecamatan Cisewu Menjadi Puseur Budaya Sunda,”
dengan alasan kekayaan seni tradisi dan seniman sangat melimpah, dan Balong Sirah, sumber air yang berada
dipusat kecamatan, yang di mitoskan sebagai air keramat ---menjadi saksi bisu
perjalanan Cisewu, dari cikal bakal daerah ini hingga perkembangannya ke depan.
Tentang
Kesenian Panca Warna Grup Giri Mekar Sewu
Disebut panca warna
dikarenakan grup kesenian ini selalu melakukan berbagai keterampilan
berkesenian dalam setiap kali manggung, jadi tidak hanya mempertunjukan satu
jenis kesenian saja. Grup Giri Mekar Sewu dahulu pernah pentas tidak kurang
dari 600 panggung pertunjukan.
Kesenian yang biasa
mereka tampilkan dalam setiap panggung adalah:
1.
Gegel
Jubleg yaitu kesenian yang menggabungkan keahlian teknis
dan penguasaan magik untuk menjadikan jubleg ( alat penumbuk padi ) sebagai
topeng dan topi dalam waktu yang cukup lama dengan cara digigit.
2.
Lais Perut yaitu keterampilan
melakukan kesenian akrobatik dengan sebatang halu yang ditegakan diatas perut, kemudian salah seorangnya lagi
melakukan seni akrobatik di sebatang halu
tadi.
3.
Debus Baksa yaitu keterampilan tarung
olah golok antara dua orang jawara yang keduanya kebal dari senjata.
4.
Debus Lempar Batu yaitu menggunakan
batu templek (serpih) yang disimpan
di atas perut yang kemudian ditenggor (
dilempari ) batu sehingga batu serpih tadi pecah.
5.
Gesrek yaitu keterampilan debus dengan
menyayat bagian tubuh dengan golok tajam, atau dengan memecahkan sebuku buluh
bambu ke kepala.
6.
Kuda Lumping yaitu kesenian menunggang
kuda dari anyaman bambu yang kemudian ditenung dengan menggunakan bara api dan
panas arang agar si penunggang kuda lari ke hutan atau ladang, dengan
menggunakan dogdog penunggang kuda yang ditenung tadi dipanggil kembali ke
panggung dengan membawa hasil palawija.
7.
Seseroan dan Babagongan yaitu jenis
kesenian yang dilakukan dengan memenggil kesaktian sero dan bagong, pemainnya
memakai kostum dari karung goni, kemudian mereka dipukuli oleh sebilah bambu
atauseikat pangkal daun salak berduri mereka akan menerjang siapapun yang
membawa singong.
8.
Buncis yaitu angklung buhun yang
berjumlah sembilan dengan memakai pola lantai yang dinamis dan memainkan lagu, cis buncis, oray orayan, ayang ayang
gung, sek gung gung (manuk leuweung) dengan meengikuti gerakan dalang yang
memainkan dogdog.
9.
Reog sebagai mana yang biasa
10. Bangbarongan
sebagai mana biasa
Dalam sebuah undangan
pertunjukan grup ini memilih lima buah kesenian atau lebih disesuaikan dengan
situasi dan kondisi para pengundangnya. Dari situlah kesenian ini sering
disebut sebagai kesenian panca warna untuk memudahkan panggilan terhadap
keberagaman keterampilan olah seni yang ditampilkan oleh Grup Giri Mekar Sewu.
Pada saat pertama tim
melakukan koordinasi pada Grup ini ada beberapa alat musik yang sudah lapuk dan
mulai mengalami kerapuhan dimakan waktu dan tak terpakai selama kurang lebih 15
tahun. Tentu kondisi ini sangat memprihatinkan. Dalam waktu dekat Grup ini agar
terjaga terus daya hidupnya perlu pengadaan alat musik yang baru sebagai sarana
pewarisan kepada generasi yang akan datang, agar kesenian ini tetap dapat
berkiprah untuk mewarnai perkembangan kesenian sebagai harta kekayaan yang
dimiliki oleh provinsi Jawa Barat.
Melalui program
konservasi yang dilakukan oleh The Global Art kesenian ini sekarang sudah mulai
lagi manggung, namun beberapa kesenian unggulan sudah ditinggalkan oleh senimannya
salahsatunya adalah kesenian gegel jubleg
yang hanya meninggalkan seorang pemain saja, belum lagi ada regenerasi bagi
generasi muda. Maka, melalui
tulisan ini kepada pihak terkait untuk segera melakukan program pewarisan
kesenian terhadap satu kesenian yang meninggalkan seorang seniman lagi ini,
karena kalau terlambat saja kesenian tersebut akan musnah dalam waktu dekat.
Sedangkan jenis kesenian ini sangat khas, identik dan merupakan kesenian
unggulan dari Kecamatan Cisewu.
Sejarah
Seni Gegel Jubleg
Berdasarkan
keterangan yang diperoleh penulis dari beberapa sesepuh pendiri kelompok seni
Giri Mekar Sewu ini. Seni gegel jubleg diciptakan oleh salah seorang seniman
(Perintis Kelompok Seni Giri Mekar Sewu) bernama Ukri (Alm.). Beliau lahir
sebelum tahun kemerdekan RI. Di tengah suasana perang, beliau menyempatkan diri
untuk menggali potensi kesenian pemuda waktu itu. Dan membentuk sebuah kelompok
seni tradisi Sunda ‘ Panca Warna’, sebuah garapan yang multi kesenian,
diantaranya: Rengkong, reog, angklung, calung, debus, dan kuda lumping.
Seni gegel jubleg yang menjadi seni
unggulan di kecamatan Cisewu yang hadir di kelompok seni Giri Mekar Sewu hingga
sekarang ini, lahir dari ketidaksengajaan. Seni tersebut terinspirasi dari
sebuah peristiwa yang disaksikan oleh Ukri. Suatu hari Ukri pergi ke hutan
berniat mengambil kayu bakar miliknya, yang ditaruh beberapa hari. Sesampainya
di tengah hitan, ia dikejutkan oleh seekor babi hutan besar yang menggigit
sebatang kayu sembari digoyang-goyangkan, seraya melintasi jalan setapak dan
masuk ke semak belukar.
Dari kejadian tersebut,
menginspirasi Pak Ukri untuk menciptakan sebuah jenis seni tradisi baru. Sebuah
bentuk seni tradisi atraktif dan fenomenal. Pengembangannya Pak Ukri mencoba
menggunakan Jubleg (alat penumbuk padi dari kayu) dengan cara digigit sebagai
bahan untuk atraksi. Tentu saja dengan teknik tertentu dan perlu keahlian
khusus dalam memainkannya. Sebab tidak gampang untuk mengangkat beban jubleg
ini hingga seberat 25 kilo gram. Apalagi
digoyang-goyang sambil berjalan-jalan.
Karena sudah dianggap berhasil dalam
pembuatan karyanya, atraksi ini mulai digunakan didalam berbagai pementasan.
Baik itu acara hajatan ataupun hari besar kemerdekaan. Dengan tradisi seperi
itu dan melihat respon baik dari penonton, tercetuslah sebuah nama seni “Gegel
Jubleg” hingga saat ini.
Pementasan seni gegel jubleg itu,
tentu saja tidak lepas dari pamirig atau pengiring musiknya. Dibubuhi juga oleh
seni reog, angklung, bahkan kendang pencak. Tak jarang juga dicampuri atraksi
gesrek atau debusan. Untuk lebih menghidupkan suasana pertunjukan.
Disayangkan, seni gegel jubleg hanya
bisa berlaga dan berjaya hingga akhir tahun 90-an . Setelah itu lenyap diikuti
oleh seni-seni tradisi sunda lainnya. Dampak dari beberapa faktor, salahsatunya
adalah perubahan politik di Indonesia dari orde baru ke orde reformasi yang
menghancurkan hampir seluruh kesenian tradisi di negara ini.
Namun, kepunahan seni gegel jubleg
tak berlangsung lama. Ceceng Jaenudin, salah seorang warga Kp. Cilumbu, desa
Mekar Sewu. Tempat dimana seni gegel jubleg lahir. Ceceng bersama dengan Global
Art Kecamatan Cisewu yang dirintis penulis. Sekuat tenaga membuat terobosan
untuk membangkitkan kembali seni tersebut
ditahun 2011, dengan mengikut sertakan dalam kegiatan gelar budaya yang
bertema : “Ngajugjug Cisewu Puseur Budaya Pasundan”, yang didukung sepenuhnya
oleh Drs. Edi Supriadi (Eks. Sekmat Cisewu), dan AIPDA Dikdik Gunardi
(Kanitreskrim polsek Cisewu).
Semenjak diikutsertakan dalam acara
tersebut, seni gegel jubleg beserta kelompok seni Giri Mekar Sewu dengan
anggota kelompok yang terdiri dari: Aroh, Eneng, Cucu, Hajar, Ipah, Geuis, Een,
Ceceng, Enung, Sulaesih, Kaman, Darisman, Daday, Tarwan, Ade, Tarman, Suhanin,
Odang, Tori, Damin, Aris, Taryadi, Sarman, Wasman, Abah Icang, Osin, Cahya dan
Imay. Mulai bisa bangkit dan berlaga kembali seperti puluhan tahun yang lalu.
Kreasi
baru penggarapan Seni Gegel Jubleg
Dengan kemampuan yang
dimiliki oleh grup Giri Mekar Sewu mulai melakukan sebuah inovasi, memilih
beberapa kesenian untuk bisa memberikan warna baru dalam pementasan seni gegel
jubleg ini. Dan berkembang menjadi seni helaran yang pernah dipentaskan dalam
acara festival helaran di kabupaten Banjar 2012, program : “ Pemberdayaan
Sarjana Seni, DISBUDPAR Provinsi Jawa Barat.”
Materi garapan meliputi:
1.
Seni Gegel Jubleg
2.
Badawang yang di kreasikan dengan stand pengeras suara
3.
Buncis merupakan kreasi dari tetabuhan
angklung dengan penggarapan topeng yang menggunakan asesoris dari kebiasaan dan
mata pencaharian masyarakat Cisewu
4.
Dog dog
5.
Kuda Lumping khas Cisewu
6.
Debus baksa kreasi helaran yaitu
pertarungan antara dua jawara dengan menggunakan golok.
7.
Bangbarongan
Kesenian di atas akan
dikreasikan sebagai bentuk seni helaran magis dengan urutan sebagai berikut:
1.
Paling depan adalah lengser sekaligus
sebagai shaman atau dukun yang membawa sesajen dan bakar kemenyan, serta
membawa air kahuripan yang dicipratkan oleh hanjuang beureum.
2.
Debus baksa sebagai palang pintu dan
sebagai simbol pendekar penjaga keamanan, dengan demontrasi silat menggunakan
senjata golok.
3.
Gegel jubleg, atraksi memakai topeng
dari jubleg dan memfungsikannya sebagai topi. Diselingi oleh gesrek yaitu seni
kekebalan.
4.
Buncis, dogdog, kendang dan goong
sebagai pemain tetabuhan yang diselingi dengan ibingan buncis.
5.
Bangbarongan yang bergerak acak dan
melakukan komunikasi langsung dengan penonton.
Tahapan
Proses Penggarapan
·
Pembuatan Topeng
Topeng merupakan bagian penting dari
seni helaran pancawarna namun keadaannya sudah menghawatirkan dan hanya
meninggalkann sebagian kecil yang tersisa itupun posisinya tercecer, sehingga
perlu untuk dibuatkan kembali topeng baru. Topeng yang dibuat sekarang tidak
berbahan kayu karena bahan baku yang sudah berkurang dan semakin mahal, maka
bahan topeng kali ini memakai kertas, dikreasikan dengan riasan dan asesoris
untuk menyerupai raksasa atau buta dalam pewayangan.
·
Pembuatan Kuda Lumping
Kuda lumping sebenarnya sudah
tersedia, namun bentuknya masih sedehana. Maka diusahakan untuk dibuatkan
kembali kuda yang baru dengan bentuk yang dimodifikasi sedikit dan tanpa
menggunakan cat, agar anyaman bambunya tidak tertutup.
·
Pembuatan Jubleg
Jubleg ini niscaya dibuat sebab
warisan dari nenek moyangnya sudah tidak terselamatkan. Jubleg ini nterbuat
dari kayu.
·
Pembuatan Bangbarongan
·
Pengadaan Badawang
Seni
Gegel Jubleg: Simbol dan Mitologi
Kesenian gegel jubleg
ini tidak lepas dari muatam mistis sebagaimana seni tradisi lainnya yang
berkembang di nusantara, kemasan pemanggungan ini pun menonjolkan sisi trance
para pelakunya. Karena kesenian ini didasarkan pada kedudukan Balong Sirah
(Mata air yang membentuk kolam besar) sebagai lambang kehidupan, kemakmuran
kecamatan Cisewu, dimana terdapat seribu mata air yang mitologinya sebagai air
keramat. Posisi Balong Sirah bagi masyarakat Cisewu sangat vital, sebagai
sumber air untuk mencukupi segala kebutuhan kehidupan di cisewu. Maka untuk
mengungkapkan rasa syukur terhadap keberlimpahan kehidupan di cisewu diadakan
upacara kesenian dengan membawa air dari balong sirah yang cipratkan oleh daun
hanjuang beureum.
Cipratan
air Balong Sirah dari daun hanjuang beureum ini sebagai simbol memandikan
warga, karena menurut mitologinya, banyak pejabat tinggi negara yang mandi dulu
di baalong gede sebelum mereka menjadi birokrat, air ini dipercaya sebagai air
berkah yang dapat mendorong seseorang untuk mencapai impian yang dicita-citakannya.
Semua itu, terangkum dalam
pertunjukan seni gegel jubleg. Mengungkapkan sisi mistik, mitologi, sejarah
kecamatan Cisewu, yang disampaikan melalui bahasa-bahasa yang simbolis,
spektakuler. Menjadi senyawa seni yang unik disetiap repertoarnya.
Susunan Pentas Seni Helaran Gegel
Jubleg
Susunan pentas Seni
gegel jubleg secara pola jalan.
Pemain dogdog, kedok dan bangbarongan gerakannya
acak tidak rampak diselingi dengan interaksi langsung dengan penonton.
Penutup
Seni adalah ciri
suatu bangsa, jika kondisi kesenian tidak berkembang bahkan mulai menghilang,
maka negara tersebut juga demikian. Oleh karena itu seni sebagai unsur dari
sebuah kebudayaan tidak semestinya diposisikan sebagai bagian pelengkap,
melainkan merupakan bagian integral dari sebuah bangsa yang berbudaya,
kedudukannya sama penting dengan unsur kebudayaan yang lain. Karena dibalik
sebuah karya seni tersimpan berbagai falsafah hidup, nilai-nilai kemanusiaan
dan nilai-nilai kearifan dari sebuah kelompok masyarakat.
Nilai kelokalan itulah yang dapat dijadikan sebagai sarana hiburan dan sarana
tuntunan bagi masyarakat. Dan seni memenuhi tugasnya sebagai penyampai pesan
yang lembut, dan indah.
Ada berbagai cara
untuk melestarikan dan memulyakan kesenian seperti upaya konservasi atau
penyelamatan, dan upaya eksplorasi yaitu proses menggali dan menerobos agar
terjadi pengolahan dan penyempurnaan yang dilakukan secara terus menerus,
mengikuti perkembangan zaman, seperti yang terdapat dalam peribahasa Sunda,
bahwa seni itu harus miindung ka waktu
mibapa ka zaman.
Dengan agama hidup
menjadi terarah.
Dengan ilmu hidup
menjadi mudah.
Dengan seni hidup menjadi indah. Terimakasih atas
segala perhatiannya.***
Gun
Gun Nugraha, Alumni STSI Bandung