Senin, 04 Mei 2015

Seni Tradisi Cisewu



Mengungkap Seni Gegel Jubleg Kecamatan Cisewu
Oleh: Gun Gun Nugraha, S.Sn

Selayang Pandang
Seni menyimpan sekelumit permasalahan klasik yaitu dorongan dan biaya untuk melakukan regenerasi ditengah himpitan zaman dan kuatnya penetrasi budaya luar. Disamping itu banyak kesenian kita yang di akui oleh negara lain, sementara banyak pelaku seni yang sudah banting setir ke pekerjaan yang lain karena kesenian yang biasa mereka tekuni sudah tidak digemari lagi oleh sebagian besar masyarakat. Alasannya seni tradisional tidak tersentuh modifikasi dan pembaruan padahal zaman menuntut manusia untuk semakin cepat dan semakin luwes untuk terus beradaptasi dengan keadaan dan perkembangan peradaban, agar manusia dapat bertahan hidup dan kehidupan kita terus berjalan dengan semestinya. Seni dapat hidup dan menghidupi.
Kita memiliki tantangan agar nilai nilai tradisi ini dapat digemari kembali oleh orang muda, caranya bagaimana? Caranya dengan melakukan penyesuaian dengan kondisi zaman. Penyesuaian adalah jalan bertahan hidup yang baik, agar kesenian tradisional ini tidak terhimpit oleh keadaan.
Program pemberdayaan sarjana seni ini kami harapkan sebagai wadah komunikasi antara seniman tradisional sebagai sumber kajian dalam perkuliahan dengan para sarjana seni yang mengkajinya. Kerja kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi laboratorium yang memadai untuk terciptanya strategi bertahan hidup.

Tinjauan Umum Kondisi Kesenian di Kecamatan Cisewu
Secara administratif kecamatan Cisewu termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Garut, namun secara geografis lebih dekat ke Kabupaten Bandung, sehingga secara secara emosional Kecamatan Cisewu lebih merasa sebagai bagian dari Kabupaten Bandung. Hal demikian dikarenakaan akses jalan raya menuju Bandung lebih dekat  dan lebih mulus dibandingkan menuju ke pusat pemerintahan Kabupaten Garut.
Kecamatan Cisewu merupakan salah satu basis pokok dalam perkembangan kesenian dan kebudayaan pada jaman dahulu, sehingga terdapat puluhan grup kesenian berdiri. Masyarakatnya pun sudah terbiasa dengan perhelatan kesenian. Situasi ini didukung oleh sebagian mata pencaharian penduduknya sebagai petani sawah, perkebunan dan merupakan penghasil gula merah dan madu yang berkualitas. Dari mata pencahariian yang di dominasi oleh pengolahan alam maka tyidak heran berbagai kesenian itu tumbuh sebagai sarana untuk melakukan syukuran terhadap alam yang telah memberikan berkah yang luar biasa itu.
Namun kondisinya sekarang jauh berbeda, walaupun sebagian besar penduduknya masih bertani dan berniaga di kota dengan melakukan urbanisasi yang kompak untuk mencari kelebihan peruntungan di kota besar provinsi yang aksesnya sudah sangat mudah. Dampak dari situasi itu adalah berkurangnya peminat untuk meneruskan keterampilan mengolah daya kreatif seni. Sampai 2009 nyaris semua grup kesenian tadi tidak berkembang bahkan sudah tinggal kenangan dari mulut ke mulut bahwa di Cisewu pernah berdiri dan berkembang berbagai jenis kesenian. Situasi ini akan terus memprihatinkan jika pemerintah juga yang memiliki kewenangan untuk menyelamatkan kesenian tidak ada kepedulian. Sementara dari penyelidikan sebagian grup itu masih menginginkan untuk terus eksis daalam dunia seni namun tidak ada figur yang memimpin dan mengayomi mereka.
Karenanya Kecamatan Cisewu pada saat ini sangat butuh sentuhan dari para praktisi seni dan peran aktif pemerintah untuk membangkitkan kembali semangat kreatif dan daya hidup seni. Walaupun sampai saat ini baru berdiri kembali satu grup kesenian di Kecamatan Cisewu yang masih melakukan perombakan dan pemeliharaan kembali atefak kesenian yang dulu pernah dimiliki.
Di samping itu, secara umum kondisi masyarakat Kecamatan Cisewu merupakan masyarakat yang apresiatif terhadap kesenian dan mereka memiliki animo yang tinggi terhadap pertunjukan kesenian, hal ini didukung karena kesejarahan yang disampaikan melalui lisan dari orang tuanya tentang berbagai kesenian yang biasa di tonton jaman dahulu kala sewaktu para orang tua ini masih muda.
Dari cerita yang berkembang inilah banyak diantaranya yang sekolah ke STSI Bandung untuk mengejar kerinduan terhadap hidupnya kesenian disekitar masyarakat. Dan masyarakat yang masih tinggal di Kecamatan Cisewu sedang merindukan tampilnya kembali kesenian untuk mewarnai kenduri dan perhelatan hari besar kenegaraan sebagai rasa mulai bosannya masyarakat pada hiburan organ tunggal yang selama 10 tahun terakhir menjadi bagian tak terpisahkan dari kenduri dan perhelatan hari besar kenegaraan.
Ilustrasi diatas didukung oleh beberapa kegiatan gelar budaya yang dilakukan 2 tahun terakhir dimana seluruh lapisan masyarakat antusias menyambutnya. Dan sebagian besar diantaranya menyimpan kerinduan terhadap tumbuhnya kembali kesenian ini dan hadir kembali ditengah masyarakat.


 The Global Art : Sebagai wadah revitalisasi seni tradisi
The Global Art merupakan sebuah wadah revitalisai serta konservasi  kesenian dan kebudayaan yang didirikan pada tahun 2009, yang digagas oleh pemuda Cisewu yang memiliki keprihatinan terhadap punahnya jenis kesenian yang dulu pernah berkibar di Jawa Barat.
Kehadiran The Global  Art 22  Maret 2009, menjadi sejarah baru bagi dunia kesenian di desa Cisewu, Kecamatan Cisewu –Garut. Merupakan waktu  sakral, sekaligus goncangan bagi daerah yang sedang terpuruk kondisi kesenian tradisinya. Satu  fenomena yang membuat wacana sosial berhari-hari. Sebagai resfon dari menjelmannya konsep organisasi yang mengusung “Revolusi Kebudayaan”.
            Global Art yang di rintis oleh Gun Gun Nugraha S.Sn, Darmawan, S.Sn, dan Deden Farid ini. Beranggotakan sekitar 250 orang, meliputi pelajar dan umum.  Dengan struktur pengurus sebagai berikut.Pelindung: Muspika Kecamatan Cisewu. Penasihat : Asep Tatang, Ayi Rochman, Drs. H Meinuzar, M.Mpd dan Ahmad Darodjah, S.pd. Ketua umum : Gun Gun Nugraha, S.Sn. Koordinator Musik : Egis Sugestian dan Rian Mayor. Koordinator Teater : Deden Abdul K dan Anggi Febriana. Koordinator Seni Rupa : Hendra Sukmawan dan Andri Bandrek.
            Kenapa pada perekrutan remaja dan pemuda menjadi menjadi sasaran? Mereka berpikir bahwa sebuah perubahan harus berawal dari pemuda. Dengan dasar lain, pada waktu itu para pemuda Cisewu, sedang demam menggandrungi band  atau permainan yang berbau tekhnologi modern bisa diberi istilah budaya Barat. Tidak jarang tak sesuai dengan cita-cita luhung leluhur kami --meninggalkan seni-seni dan nilai-nilai ketradisian sebagai peninggalan karuhun.
            Puluhan jenis kesenian tradisi, seperti : Gegel Jubleg, Lais, Wayang tutur, Rengkong, Reog, Babagongan, Momonyetan, Kacapi Suling, Gondang, Bakicot, dan lai-lain. Sama sekali tidak disentuh oleh mereka. Beralasan kampungan atau ngolot. Para pemuda pemudi sudah malu mengafresiasi budaya-budaya atau seni local. Digerus mentalitasnya ke arah dominasi budaya pop. Selain seni-seni tradisi, permainan anak-anak baheula juga atau di kenal dengan istilah kaulinan barudak Lembur seperti: Boyongan, Gobag, Ucing-Ucingan, Hahayaman, Sasalimpetan, Pangpring, Gunggaya, Maen Kaleci, Maen Karet, dan lain sebagainya. Total ditinggalkan. Tergantikan play station atau sinetron yang sering tidak bermutu dan kering nilai pendidikan.
            Kenyataan itulah yang menjadi landasan Global Art didirikan, dengan penamaan organisasinya sedikit asing, sebagai setrategi untuk menjaring para pemuda, yang waktu itu tengah dilanda kebarat-baratan. Kami memiliki cita-cita besar “Kecamatan Cisewu Menjadi Puseur Budaya Sunda,” dengan alasan kekayaan seni tradisi dan seniman sangat melimpah, dan Balong Sirah, sumber air yang berada dipusat kecamatan, yang di mitoskan sebagai air keramat ---menjadi saksi bisu perjalanan Cisewu, dari cikal bakal daerah ini hingga perkembangannya ke depan.



Tentang Kesenian Panca Warna Grup Giri Mekar Sewu
Disebut panca warna dikarenakan grup kesenian ini selalu melakukan berbagai keterampilan berkesenian dalam setiap kali manggung, jadi tidak hanya mempertunjukan satu jenis kesenian saja. Grup Giri Mekar Sewu dahulu pernah pentas tidak kurang dari 600 panggung pertunjukan.
Kesenian yang biasa mereka tampilkan dalam setiap panggung adalah:
1.      Gegel Jubleg yaitu kesenian yang menggabungkan keahlian teknis dan penguasaan magik untuk menjadikan jubleg ( alat penumbuk padi ) sebagai topeng dan topi dalam waktu yang cukup lama dengan cara digigit.
2.      Lais Perut yaitu keterampilan melakukan kesenian akrobatik dengan sebatang halu yang ditegakan diatas perut, kemudian salah seorangnya lagi melakukan seni akrobatik di sebatang halu tadi.
3.      Debus Baksa yaitu keterampilan tarung olah golok antara dua orang jawara yang keduanya kebal dari senjata.
4.      Debus Lempar Batu yaitu menggunakan batu templek (serpih) yang disimpan di atas perut yang kemudian ditenggor ( dilempari ) batu sehingga batu serpih tadi pecah.
5.      Gesrek yaitu keterampilan debus dengan menyayat bagian tubuh dengan golok tajam, atau dengan memecahkan sebuku buluh bambu ke kepala.
6.      Kuda Lumping yaitu kesenian menunggang kuda dari anyaman bambu yang kemudian ditenung dengan menggunakan bara api dan panas arang agar si penunggang kuda lari ke hutan atau ladang, dengan menggunakan dogdog penunggang kuda yang ditenung tadi dipanggil kembali ke panggung dengan membawa hasil palawija.
7.      Seseroan dan Babagongan yaitu jenis kesenian yang dilakukan dengan memenggil kesaktian sero dan bagong, pemainnya memakai kostum dari karung goni, kemudian mereka dipukuli oleh sebilah bambu atauseikat pangkal daun salak berduri mereka akan menerjang siapapun yang membawa singong.
8.      Buncis yaitu angklung buhun yang berjumlah sembilan dengan memakai pola lantai yang dinamis dan memainkan lagu, cis buncis, oray orayan, ayang ayang gung,  sek gung gung (manuk leuweung)  dengan meengikuti gerakan dalang yang memainkan dogdog.
9.      Reog sebagai mana yang biasa
10.  Bangbarongan sebagai mana biasa
Dalam sebuah undangan pertunjukan grup ini memilih lima buah kesenian atau lebih disesuaikan dengan situasi dan kondisi para pengundangnya. Dari situlah kesenian ini sering disebut sebagai kesenian panca warna untuk memudahkan panggilan terhadap keberagaman keterampilan olah seni yang ditampilkan oleh Grup Giri Mekar Sewu.
Pada saat pertama tim melakukan koordinasi pada Grup ini ada beberapa alat musik yang sudah lapuk dan mulai mengalami kerapuhan dimakan waktu dan tak terpakai selama kurang lebih 15 tahun. Tentu kondisi ini sangat memprihatinkan. Dalam waktu dekat Grup ini agar terjaga terus daya hidupnya perlu pengadaan alat musik yang baru sebagai sarana pewarisan kepada generasi yang akan datang, agar kesenian ini tetap dapat berkiprah untuk mewarnai perkembangan kesenian sebagai harta kekayaan yang dimiliki oleh provinsi Jawa Barat.
Melalui program konservasi yang dilakukan oleh The Global Art kesenian ini sekarang sudah mulai lagi manggung, namun beberapa kesenian unggulan sudah ditinggalkan oleh senimannya salahsatunya adalah kesenian gegel jubleg yang hanya meninggalkan seorang pemain saja, belum lagi ada regenerasi bagi generasi muda.             Maka, melalui tulisan ini kepada pihak terkait untuk segera melakukan program pewarisan kesenian terhadap satu kesenian yang meninggalkan seorang seniman lagi ini, karena kalau terlambat saja kesenian tersebut akan musnah dalam waktu dekat. Sedangkan jenis kesenian ini sangat khas, identik dan merupakan kesenian unggulan dari Kecamatan Cisewu.

Sejarah Seni Gegel Jubleg
          Berdasarkan keterangan yang diperoleh penulis dari beberapa sesepuh pendiri kelompok seni Giri Mekar Sewu ini. Seni gegel jubleg diciptakan oleh salah seorang seniman (Perintis Kelompok Seni Giri Mekar Sewu) bernama Ukri (Alm.). Beliau lahir sebelum tahun kemerdekan RI. Di tengah suasana perang, beliau menyempatkan diri untuk menggali potensi kesenian pemuda waktu itu. Dan membentuk sebuah kelompok seni tradisi Sunda ‘ Panca Warna’, sebuah garapan yang multi kesenian, diantaranya: Rengkong, reog, angklung, calung, debus, dan kuda lumping.
            Seni gegel jubleg yang menjadi seni unggulan di kecamatan Cisewu yang hadir di kelompok seni Giri Mekar Sewu hingga sekarang ini, lahir dari ketidaksengajaan. Seni tersebut terinspirasi dari sebuah peristiwa yang disaksikan oleh Ukri. Suatu hari Ukri pergi ke hutan berniat mengambil kayu bakar miliknya, yang ditaruh beberapa hari. Sesampainya di tengah hitan, ia dikejutkan oleh seekor babi hutan besar yang menggigit sebatang kayu sembari digoyang-goyangkan, seraya melintasi jalan setapak dan masuk ke semak belukar.
            Dari kejadian tersebut, menginspirasi Pak Ukri untuk menciptakan sebuah jenis seni tradisi baru. Sebuah bentuk seni tradisi atraktif dan fenomenal. Pengembangannya Pak Ukri mencoba menggunakan Jubleg (alat penumbuk padi dari kayu) dengan cara digigit sebagai bahan untuk atraksi. Tentu saja dengan teknik tertentu dan perlu keahlian khusus dalam memainkannya. Sebab tidak gampang untuk mengangkat beban jubleg ini hingga seberat 25 kilo gram. Apalagi  digoyang-goyang sambil berjalan-jalan.
            Karena sudah dianggap berhasil dalam pembuatan karyanya, atraksi ini mulai digunakan didalam berbagai pementasan. Baik itu acara hajatan ataupun hari besar kemerdekaan. Dengan tradisi seperi itu dan melihat respon baik dari penonton, tercetuslah sebuah nama seni “Gegel Jubleg” hingga saat ini.
            Pementasan seni gegel jubleg itu, tentu saja tidak lepas dari pamirig atau pengiring musiknya. Dibubuhi juga oleh seni reog, angklung, bahkan kendang pencak. Tak jarang juga dicampuri atraksi gesrek atau debusan. Untuk lebih menghidupkan suasana pertunjukan.
            Disayangkan, seni gegel jubleg hanya bisa berlaga dan berjaya hingga akhir tahun 90-an . Setelah itu lenyap diikuti oleh seni-seni tradisi sunda lainnya. Dampak dari beberapa faktor, salahsatunya adalah perubahan politik di Indonesia dari orde baru ke orde reformasi yang menghancurkan hampir seluruh kesenian tradisi di negara ini.
            Namun, kepunahan seni gegel jubleg tak berlangsung lama. Ceceng Jaenudin, salah seorang warga Kp. Cilumbu, desa Mekar Sewu. Tempat dimana seni gegel jubleg lahir. Ceceng bersama dengan Global Art Kecamatan Cisewu yang dirintis penulis. Sekuat tenaga membuat terobosan untuk membangkitkan kembali seni tersebut  ditahun 2011, dengan mengikut sertakan dalam kegiatan gelar budaya yang bertema : “Ngajugjug Cisewu Puseur Budaya Pasundan”, yang didukung sepenuhnya oleh Drs. Edi Supriadi (Eks. Sekmat Cisewu), dan AIPDA Dikdik Gunardi (Kanitreskrim polsek Cisewu).
            Semenjak diikutsertakan dalam acara tersebut, seni gegel jubleg beserta kelompok seni Giri Mekar Sewu dengan anggota kelompok yang terdiri dari: Aroh, Eneng, Cucu, Hajar, Ipah, Geuis, Een, Ceceng, Enung, Sulaesih, Kaman, Darisman, Daday, Tarwan, Ade, Tarman, Suhanin, Odang, Tori, Damin, Aris, Taryadi, Sarman, Wasman, Abah Icang, Osin, Cahya dan Imay. Mulai bisa bangkit dan berlaga kembali seperti puluhan tahun yang lalu.

Kreasi baru penggarapan Seni Gegel Jubleg
Dengan kemampuan yang dimiliki oleh grup Giri Mekar Sewu mulai melakukan sebuah inovasi, memilih beberapa kesenian untuk bisa memberikan warna baru dalam pementasan seni gegel jubleg ini. Dan berkembang menjadi seni helaran yang pernah dipentaskan dalam acara festival helaran di kabupaten Banjar 2012, program : “ Pemberdayaan Sarjana Seni, DISBUDPAR Provinsi Jawa Barat.”
Materi garapan meliputi:
1.      Seni Gegel Jubleg
2.      Badawang  yang di kreasikan dengan stand pengeras suara
3.      Buncis merupakan kreasi dari tetabuhan angklung dengan penggarapan topeng yang menggunakan asesoris dari kebiasaan dan mata pencaharian masyarakat Cisewu
4.      Dog dog
5.      Kuda Lumping khas Cisewu
6.      Debus baksa kreasi helaran yaitu pertarungan antara dua jawara dengan menggunakan golok.
7.      Bangbarongan
Kesenian di atas akan dikreasikan sebagai bentuk seni helaran magis dengan urutan sebagai berikut:
1.      Paling depan adalah lengser sekaligus sebagai shaman atau dukun yang membawa sesajen dan bakar kemenyan, serta membawa air kahuripan yang dicipratkan oleh hanjuang beureum.
2.      Debus baksa sebagai palang pintu dan sebagai simbol pendekar penjaga keamanan, dengan demontrasi silat menggunakan senjata golok.
3.      Gegel jubleg, atraksi memakai topeng dari jubleg dan memfungsikannya sebagai topi. Diselingi oleh gesrek yaitu seni kekebalan.
4.      Buncis, dogdog, kendang dan goong sebagai pemain tetabuhan yang diselingi dengan ibingan buncis.
5.      Bangbarongan yang bergerak acak dan melakukan komunikasi langsung dengan penonton.

Tahapan Proses Penggarapan

·        Pembuatan Topeng
Topeng merupakan bagian penting dari seni helaran pancawarna namun keadaannya sudah menghawatirkan dan hanya meninggalkann sebagian kecil yang tersisa itupun posisinya tercecer, sehingga perlu untuk dibuatkan kembali topeng baru. Topeng yang dibuat sekarang tidak berbahan kayu karena bahan baku yang sudah berkurang dan semakin mahal, maka bahan topeng kali ini memakai kertas, dikreasikan dengan riasan dan asesoris untuk menyerupai raksasa atau buta dalam pewayangan.

·        Pembuatan Kuda Lumping
Kuda lumping sebenarnya sudah tersedia, namun bentuknya masih sedehana. Maka diusahakan untuk dibuatkan kembali kuda yang baru dengan bentuk yang dimodifikasi sedikit dan tanpa menggunakan cat, agar anyaman bambunya tidak tertutup.

·        Pembuatan Jubleg
Jubleg ini niscaya dibuat sebab warisan dari nenek moyangnya sudah tidak terselamatkan. Jubleg ini nterbuat dari kayu.

·        Pembuatan Bangbarongan
·        Pengadaan Badawang





Seni Gegel Jubleg: Simbol dan Mitologi
Kesenian gegel jubleg ini tidak lepas dari muatam mistis sebagaimana seni tradisi lainnya yang berkembang di nusantara, kemasan pemanggungan ini pun menonjolkan sisi trance para pelakunya. Karena kesenian ini didasarkan pada kedudukan Balong Sirah (Mata air yang membentuk kolam besar)  sebagai lambang kehidupan, kemakmuran kecamatan Cisewu, dimana terdapat seribu mata air yang mitologinya sebagai air keramat. Posisi Balong Sirah bagi masyarakat Cisewu sangat vital, sebagai sumber air untuk mencukupi segala kebutuhan kehidupan di cisewu. Maka untuk mengungkapkan rasa syukur terhadap keberlimpahan kehidupan di cisewu diadakan upacara kesenian dengan membawa air dari balong sirah yang cipratkan oleh daun hanjuang beureum.
Cipratan air Balong Sirah dari daun hanjuang beureum ini sebagai simbol memandikan warga, karena menurut mitologinya, banyak pejabat tinggi negara yang mandi dulu di baalong gede sebelum mereka menjadi birokrat, air ini dipercaya sebagai air berkah yang dapat mendorong seseorang untuk mencapai impian yang dicita-citakannya.
            Semua itu, terangkum dalam pertunjukan seni gegel jubleg. Mengungkapkan sisi mistik, mitologi, sejarah kecamatan Cisewu, yang disampaikan melalui bahasa-bahasa yang simbolis, spektakuler. Menjadi senyawa seni yang unik disetiap repertoarnya.



Susunan Pentas Seni Helaran Gegel Jubleg
Susunan pentas Seni gegel jubleg secara pola jalan.
Description: pola lantai badarek.emf

Pemain dogdog, kedok dan bangbarongan gerakannya acak tidak rampak diselingi dengan interaksi langsung dengan penonton.


Penutup
Seni adalah ciri suatu bangsa, jika kondisi kesenian tidak berkembang bahkan mulai menghilang, maka negara tersebut juga demikian. Oleh karena itu seni sebagai unsur dari sebuah kebudayaan tidak semestinya diposisikan sebagai bagian pelengkap, melainkan merupakan bagian integral dari sebuah bangsa yang berbudaya, kedudukannya sama penting dengan unsur kebudayaan yang lain. Karena dibalik sebuah karya seni tersimpan berbagai falsafah hidup, nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai kearifan dari sebuah kelompok masyarakat.
Nilai  kelokalan itulah yang  dapat dijadikan sebagai sarana hiburan dan sarana tuntunan bagi masyarakat. Dan seni memenuhi tugasnya sebagai penyampai pesan yang lembut, dan indah.
Ada berbagai cara untuk melestarikan dan memulyakan kesenian seperti upaya konservasi atau penyelamatan, dan upaya eksplorasi yaitu proses menggali dan menerobos agar terjadi pengolahan dan penyempurnaan yang dilakukan secara terus menerus, mengikuti perkembangan zaman, seperti yang terdapat dalam peribahasa Sunda, bahwa seni itu harus miindung ka waktu mibapa ka zaman.
Dengan agama hidup menjadi terarah.
Dengan ilmu hidup menjadi mudah.
Dengan seni hidup menjadi indah. Terimakasih atas segala perhatiannya.***

Gun Gun Nugraha, Alumni STSI Bandung

1 komentar:

  1. assalamuallaikum aa, nyungken data na kanggo referensi abdi...nyungken widi na nya a... hatur nuhun..iis

    BalasHapus